Produksi Naik Tanpa Korbankan Aturan, Yudha Mahendra Tegaskan Disiplin Sadap dan Keselamatan Kerja di Afdeling I Way Berulu

Way Berulu, 30 Mei 2026 – Komitmen terhadap keselamatan kerja dan kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) terus diperkuat di Afdeling I PTPN I (Persero) Regional 7 Kebun Way Berulu. Hal tersebut ditegaskan oleh Asisten Afdeling I, Yudha Mahendra, saat memimpin apel pagi bersama mandor dan mabes tanaman, Sabtu (30/05/2026).

Dalam arahannya, Yudha Mahendra menegaskan bahwa seluruh penyadap wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa kacamata pelindung saat melaksanakan kegiatan penyadapan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya melindungi pekerja dari risiko terkena tatal atau serpihan kulit yang dapat membahayakan mata dan berpotensi menimbulkan cedera serius hingga menyebabkan gangguan penglihatan.

Untuk memastikan implementasi aturan berjalan dengan baik, jajaran pimpinan Afdeling I secara rutin melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) ke lapangan guna memastikan seluruh penyadap mematuhi ketentuan penggunaan APD.

Yudha Mahendra juga menegaskan bahwa perusahaan telah menyediakan APD bagi para pekerja sebagai bentuk komitmen nyata dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi pekerja untuk mengabaikan penggunaan APD yang telah disediakan perusahaan.

“Perusahaan sudah menyediakan APD untuk melindungi pekerja. Jangan ada yang bandel terhadap aturan. Keselamatan kerja bukan hanya tanggung jawab perusahaan, tetapi juga tanggung jawab setiap pekerja. Jika terjadi kecelakaan akibat mengabaikan APD, dampaknya bukan hanya kepada pekerja yang bersangkutan, tetapi juga dapat mencoreng nama baik perusahaan yang selama ini berkomitmen menerapkan budaya keselamatan kerja,” tegas Yudha.

Selain aspek keselamatan kerja, Yudha juga menekankan pentingnya pengawasan dan pengecekan berkala terhadap bidang sadap. Menurutnya, teknik penyadapan harus selalu mengacu pada SOP agar penggunaan kulit tanaman tetap efisien, menghindari pemborosan kulit, serta menjaga produktivitas tanaman dalam jangka panjang.

“Optimalisasi produksi harus tetap berada dalam koridor SOP. Jangan sampai mengejar target sesaat dengan mengabaikan aturan teknis yang pada akhirnya dapat merugikan perusahaan dan merusak potensi produksi tanaman,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yudha Mahendra menegaskan bahwa setiap pimpinan memiliki tanggung jawab untuk melakukan transfer knowledge kepada bawahannya. Pemahaman yang baik mengenai teknik kerja, aturan perusahaan, dan budaya keselamatan kerja menjadi modal utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang profesional dan berdaya saing.

Menurutnya, peningkatan produksi yang saat ini dirasakan di Afdeling I merupakan hasil dari proses pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan. Produksi yang meningkat secara bertahap dinilai lebih sehat dan berkelanjutan dibandingkan pencapaian sesaat yang mengabaikan aspek teknis dan kesehatan tanaman.

“Kita memilih peningkatan produksi yang pelan tetapi pasti. Jangan mencari hasil cepat dengan mengorbankan aturan karena dapat menyebabkan stagnasi produksi bahkan memicu mati kulit yang berdampak pada penurunan produktivitas tanaman,” ujar Yudha.

Senada dengan hal tersebut, Dion Fernanda selaku Maskep TNP bersama M. Iqbal, Supriyadi, dan Into Indrady selaku Karpim TNP menyampaikan bahwa penerapan disiplin kerja yang konsisten, kepatuhan terhadap SOP, serta komitmen menjalankan aturan perusahaan mulai menunjukkan hasil yang positif di lapangan.

Menurut mereka, peningkatan kualitas pekerjaan di tingkat operasional telah berdampak langsung terhadap mutu lateks dan capaian produksi tanaman yang terus mengalami perbaikan.

“Kami melihat bahwa konsistensi dalam menjalankan aturan perusahaan, kedisiplinan tenaga sadap, ketepatan waktu pelaksanaan sadap dan pungut, serta pengawasan yang berkelanjutan mulai memberikan hasil nyata. Mutu lateks semakin baik dan kuantitas produksi tanaman menunjukkan grafik peningkatan dari waktu ke waktu,” ujar Dion Fernanda.

M. Iqbal dan Supriyadi menambahkan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh unsur, mulai dari pimpinan, mandor, mabes hingga tenaga pelaksana di lapangan yang memiliki komitmen yang sama untuk bekerja sesuai standar perusahaan.

Sementara itu, Into Indrady menegaskan bahwa keberhasilan peningkatan produksi tidak dapat dicapai secara instan, melainkan melalui proses pembinaan yang berkelanjutan dan konsistensi dalam menjalankan aturan.

“Ketika seluruh lini menjalankan tugas sesuai SOP, disiplin hadir bekerja, disiplin sadap, disiplin pungut, dan disiplin menjaga kualitas hasil kerja, maka dampaknya akan terlihat pada mutu lateks dan peningkatan produksi. Grafik produksi yang mulai meningkat saat ini menjadi bukti bahwa disiplin dan kepatuhan terhadap aturan perusahaan merupakan kunci keberhasilan yang harus terus dijaga,” ungkap Into Indrady.

Ia juga mengajak seluruh pekerja untuk terus mempertahankan semangat kerja, meningkatkan rasa memiliki terhadap perusahaan, serta menjadikan keselamatan kerja dan kepatuhan terhadap SOP sebagai budaya kerja sehari-hari.

Melalui penerapan disiplin kerja, kepatuhan terhadap SOP, penggunaan APD secara konsisten, serta pembinaan yang berkelanjutan, Afdeling I Kebun Way Berulu terus berupaya mewujudkan peningkatan produksi yang sehat, aman, dan berkelanjutan sesuai prinsip tata kelola perkebunan yang baik. Dengan sinergi seluruh unsur pimpinan dan pekerja, peningkatan produksi diharapkan terus berlanjut tanpa mengabaikan keselamatan kerja maupun kelestarian tanaman sebagai aset utama perusahaan.(indra).

Berita Terbaru