Way Berulu, Sabtu, 30 Mei 2026 – Dalam upaya menjaga keberlangsungan operasional perusahaan serta mendukung pencapaian target produksi karet berkualitas ekspor, PTPN I (Persero) Regional 7 Kebun Way Berulu melaksanakan rapat koordinasi teknis di Kantor Teknik. Agenda rapat meliputi kesiapsiagaan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), optimalisasi produksi lateks, peningkatan mutu RSS 1, serta kesiapan sarana dan prasarana pabrik melalui program maintenance yang berkelanjutan.
Berdasarkan kajian teknis, keberhasilan pengolahan RSS sangat dipengaruhi oleh sinergi antara kebun dan pabrik. Ketersediaan bahan baku yang berkualitas, kedisiplinan operasional, kesiapan tenaga kerja, serta keandalan peralatan produksi menjadi faktor utama dalam menjaga produktivitas dan mutu hasil olahan.
Pada kesempatan tersebut, dilakukan pula pengecekan dan pendataan kesiapan peralatan Karhutla PTPN I (Persero) Regional 7 Kebun Way Berulu. Hasil pemeriksaan per tanggal 30 Mei 2026 menunjukkan bahwa sarana dan peralatan utama dalam kondisi siap digunakan untuk mendukung kegiatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

Hasil Pendataan Peralatan Karhutla Mesin Alkon : dalam kondisi hidup dan siap digunakan, Radio HT : 11 unit lengkap, aktif, dan berfungsi dengan baik, Senter kepala : 10 unit, terdiri dari 9 unit lengkap dan 1 unit tanpa baterai,TOA : 2 unit aktif dan siap di gunakan, Masker : 10 unit lengkap, Senso (chainsaw) : 1 unit dalam kondisi normal dan masih digunakan di Afdeling III.
Peralatan pendukung lainnya : dalam kondisi lengkap, baik, dan siap dipergunakan sesuai kebutuhan operasional tanggap darurat.

Menurut Suprapto Wakil Komandan Satpam pendataan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memastikan kesiapan personel dan sarana Karhutla sehingga dapat merespons secara cepat apabila terjadi kondisi darurat di lapangan.
Dalam pembahasan produksi, Yudha Mahendra menegaskan pentingnya optimalisasi produksi lateks melalui penerapan disiplin operasional di setiap afdeling. Pelaksanaan sadap lebih awal, pungut tepat waktu, ketersediaan alat sadap, kecukupan amoniak, kesiapan armada angkutan, serta tingkat kehadiran penyadap menjadi faktor penting dalam menjaga volume dan kualitas lateks yang diterima pabrik.
Sementara itu, M. Iqbal menyampaikan bahwa pencapaian mutu RSS 1 harus didukung oleh proses pengolahan yang sesuai standar. Kebersihan alat pengolahan, kualitas bahan penolong, penggunaan saringan lateks yang baik, serta disiplin pekerja dalam menjalankan prosedur kerja menjadi faktor penentu kualitas produk akhir.
Selain itu, perhatian khusus juga diberikan pada pelaksanaan maintenance pabrik secara rutin dan terjadwal, meliputi pemeriksaan blower kamar asap, mesin sheeter, genset, hydrant, panel listrik, dan peralatan pendukung lainnya.

Menurut Into Indrady, maintenance yang dilakukan secara konsisten merupakan langkah preventif untuk menjaga keandalan peralatan dan mencegah gangguan operasional saat proses pengolahan berlangsung.
“Jadwal maintenance harus dilaksanakan secara rutin dan terencana agar seluruh fasilitas produksi selalu dalam kondisi prima. Persiapan harus dilakukan sejak awal sehingga saat kebutuhan produksi meningkat, pabrik dapat beroperasi dengan aman, lancar, dan efisien tanpa hambatan teknis yang berarti,” ujar Into Indrady.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa rapat koordinasi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komunikasi dan keharmonisan kerja antara Afdeling, TNP, dan unit pabrik. Dengan koordinasi yang baik, setiap potensi kendala dapat diantisipasi lebih dini sehingga target produksi, mutu RSS 1, serta keselamatan kerja dapat tercapai secara optimal.
Melalui kesiapan peralatan Karhutla, peningkatan disiplin operasional, penguatan mutu produksi, dan pelaksanaan maintenance yang konsisten, PTPN I (Persero) Regional 7 Kebun Way Berulu optimistis mampu menjaga keberlangsungan operasional perusahaan serta meningkatkan daya saing produk karet di pasar nasional maupun internasional.(*).



