MEDAN –- Bangunan besar dengan arsitektur khas masa kolonial Belanda itu masih tampak megah. Di bagian dalam, ruangan berukuran 62×20 meter dengan ketiggian 12 meter itu tak bersekat. Di tempat ini, seratusan pekerja, yang didominasi perempuan menapis daun—daun tembakau dengan sabar, tekun, dan teliti. Potret itu adalah aktivitas pekerja memproses lembar demi lembar daun tembakau khas Deli menjadi cerutu kualitas tinggi.
Lokasi bangunan itu berada di Tandem Hulu, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara. Ini bukan pabrik baru, tetapi warisan zaman Belanda yang dibangkitkan kembali oleh PTPN I untuk mengembalikan kejayaan tembakau Deli yang pernah dinobatkan sebagai bahan baku cerutu terbaik dunia sejak 1860-an.
Meskipun masuk kategori industri, tetapi suasana kerja terasa di Pabrik Cerutu Deli Nusantara ini relatif senyap dari deru mesin dan cerobong asap. Dengan telaten, para pekerja menerawang warna, meraba tekstur, mengira ukur, mengusap merapikan, dan memilin dengan sangat hati-hati. Semua dikerjakan tanpa mesin modern, melainkan dengan beberapa alat bantu dari kayu sederhana. Opsi ini dilakukan hanya dan dan hanya untuk mengembalikan reputasi tembakau deli yang sudah sohor hingga ke pelosok-pelosok Eropa dan Amerika.
Sohornya tembakau Deli membawa nama besar satu kawasan bernama Deli Serdang. Sejak abad ke-19, nama kabupaten di Sumatera Utara ini harum di seantero Eropa karena melekat pada nama sehelai daun legendaris bernama Tembakau Deli. Sebagai bahan baku cerutu terbaik dunia, komoditas ini telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan ekonomi nasional yang nilai non tunainya sangat tinggi. Bagi PTPN I, Tembakau Deli adalah “emas hijau” yang menjadi prospek masa depan Perusahaan.
Prospek yang sempat surut itu dibangunkan lagi oleh PTPN I yang secara operasional dilaksanakan Regional 1. Sejak tahun 2024, Perusahaan memperluas areal tanaman tembakau dan mulai memperbesar kapasitas pabrik cerutu. Pada Juli 2025, Pabrik Cerutu Deli Nusantara atau Deli Nusantara Cigar Factory diresmikan. Beberapa produk cerutu yang dihasilkan diberi merek yang melekatkan edisi nama kebun asal tembakau. Antara lain, edisi Helvetia, Saentis, Klumpang, dan Bulu Cina.
Perusahaan mempertahankan kualitas produk dari proses awal sampai akhir. Dari perlakuan lahan, pemilihan dan pemuliaan bibit, pemeliharaan di kebun, usia panen, perlakuan panen dan pascapanen, hingga proses produksi di pabrik. Salah satu fase yang menjadi penentu kualitas produk Adalah para proses di bangsal pengeringan yang tetap dilakukan secara manual. Tahap ini akan memastikan kualitas “emas hijau” tersebut tetap tak tertandingi di pasar global.
Selain menghasilkan produk terbaik untuk mengakselerasi kinerja Perusahaan, upaya pelestarian ini sekaligus menjadi jangkar ekonomi bagi puluhan tenaga kerja lokal di sekitar wilayah perkebunan. Direktur Utama PTPN I Teddy Yunirman Danas menegaskan, ikhtiar menjaga eksistensi Tembakau Deli merupakan tugas sejarah sekaligus tanggung jawab sosial perusahaan untuk memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat setempat.
“PTPN I berkomitmen agar warisan dunia ini tidak hanya unggul secara komersial, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan melalui penyerapan tenaga kerja yang berkelanjutan,” kata Teddy Yunirman Danas di Jakarta, Rabu (28/1/26).
Visi besar tersebut terimplementasi nyata dalam operasional bangsal pengeringan masif yang menyerap tenaga kerja cukup banyak. Region Head PTPN I Regional 1 Wispramono Budiman menjelaskan, di dalam bangunan ikonik itu, setiap helai daun harus melewati siklus biologis yang sangat sensitif selama 17 hingga 22 hari.
Proses tersebut mencakup fase pelayuan (wilting), penguningan (yellowing), hingga pencoklatan (browning) yang menuntut ketelitian tinggi pengawasan ketat. Seluruh tenaga kerja, kata Wispramono, adalah warga sekitar dengan pengalaman, keterampilan, dan ketelitian sangat presisi.
“Tenaga kerja kami adalah warga sekitar yang sudah sangat paham proses dan karakteristik proses tembakau Deli. Aspek-aspek yang harus diikuti pada SOP sangat kompleks. Bukan hanya aspek fisik dari bentuk, ukuran, warna, dan tekstur, tetapi juga ketepatan suhu saat proses, hingga durasi. Ini sangat ketat sehingga produk kami berkualitas tinggi,” kata dia.
Wispramono menambahkan, kekuatan utama yang menjaga keunikan Tembakau Deli tetap terletak pada teknik pengasapan tradisional. Bukan sekadar suhu, panas yang dihasilkan juga tetap menggunakan tungku berbahan bakar campuran kayu karet dan sekam padi. Hal ini untuk mengunci warna cokelat keemasan yang autentik.
Menguatkan Wispram, Manajer PTPN I Regional 1 Kebun Tembakau Henri Tua Hutabarat menyebut fase pengasapan merupakan titik paling kritis dalam seluruh rantai produksi tembakau Deli. Ia memuji dedikasi puluhan pekerja yang memantau suhu selama 24 jam sehari, tujuh hari sepekan, dan seterusnya. Sebab, kata Henri, hal ini menjadi faktor penentu keberhasilan.
“Kesalahan kecil dalam pengelolaan asap dapat berakibat fatal pada kualitas fisik daun hingga risiko pembusukan. Ini membutuhkan sinergi antara keahlian tangan manusia dan infrastruktur bangsal yang memadai. Sebab, ini menjadi kunci utama PTPN I dalam menjaga standar kualitas cerutu premium internasional,” kata dia.
Melalui integrasi antara nilai sejarah yang kuat, disiplin teknis proses produksi, dan penyerapan tenaga kerja lokal, PTPN I memastikan Tembakau Deli tetap menjadi komoditas kebanggaan nasional yang kompetitif. Keberhasilan mempertahankan tradisi pengolahan yang teliti ini membuktikan bahwa perusahaan tidak hanya mengejar target produksi, tetapi juga aktif merawat warisan budaya perkebunan Indonesia yang telah mendunia. Dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai garda terdepan, PTPN I optimis kejayaan Tembakau Deli akan terus berkelanjutan, membawa manfaat ekonomi yang kokoh bagi Sumatera Utara sekaligus mengharumkan nama bangsa di pasar mancanegara. (*)



