“Kenaikan BBM Solar Industri Jadi Momentum Penguatan Efisiensi Berbasis Ilmiah di Pabrik Karet PTPN 1 (Persero) Regional 7 Kebun Way Berulu”

Rahmat Penyadap Afd 1 Field 2013 Kemandoran Edi Mustofa
Rahmat Penyadap Afd 1 Field 2013 Kemandoran Edi Mustofa

Pesawaran Jum’at 08 Mei 2026,  Kenaikan harga BBM solar industri menjadi tantangan serius bagi sektor perkebunan dan industri pengolahan karet, khususnya terhadap struktur biaya operasional yang berkaitan langsung dengan transportasi hasil, pengoperasian mesin, mobilisasi material hingga proses pengolahan di pabrik. Menyikapi kondisi tersebut, Pabrik Karet PTPN 1 (Persero) Regional 7 Kebun Way Berulu mengambil langkah strategis melalui penguatan kolaborasi lintas bidang tanaman, teknik dan pengolahan guna menjaga stabilitas produksi sekaligus mengendalikan harga pokok produksi (HPP) secara terukur dan berkelanjutan.

Langkah tersebut diwujudkan melalui sinergi Tim Kinerja yang terdiri dari Maskep TNP Dion Fernanda, Asisten Afdeling 1  Yudha Mahendra, Asisten Pengolahan Supriyadi dan Asisten Teknik Into Indrady dalam melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem operasional kebun dan pabrik berbasis efisiensi, produktivitas dan mutu.

Secara ilmiah, peningkatan biaya energi industri akan berdampak langsung terhadap cost structure perusahaan. Oleh sebab itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada penghematan biaya semata, namun juga menitikberatkan pada peningkatan produktivitas per hektar, efektivitas tenaga kerja, optimalisasi alat produksi serta menjaga kualitas bahan olah agar rendemen dan mutu produk tetap optimal.

Dalam keterangannya, Yudha Mahendra menjelaskan bahwa sektor tanaman saat ini fokus pada penguatan manajemen produksi berbasis pendekatan teknis agronomi dan perilaku kerja lapangan. Salah satu langkah utama ialah meningkatkan A greatmen dan komunikasi dengan para penyadap agar kehadiran tenaga kerja pada saat mulai sadap dan mulai pungut dapat meningkat secara konsisten.

Menurutnya, disiplin waktu penyadapan memiliki korelasi ilmiah terhadap volume dan kualitas lateks yang dihasilkan. Penyadapan yang dilakukan tepat waktu pada kondisi fisiologis tanaman yang optimal akan meningkatkan aliran lateks serta menjaga kestabilan produksi harian.

Selain itu, evaluasi sistem sadap terus dilakukan guna menghindari luka kulit yang berlebihan pada batang tanaman. Hal tersebut penting karena kerusakan bidang sadap dapat menurunkan produktivitas jangka panjang dan memperpendek umur ekonomis tanaman karet.

“Kami melakukan evaluasi teknik penyadapan agar tetap sesuai SOP dan kaidah teknis budidaya. Kulit tanaman harus dijaga karena itu merupakan aset produksi jangka panjang perusahaan. Kelengkapan alat sadap juga kami perhatikan agar pekerjaan lebih efektif, presisi dan aman,” ujar Yudha Mahendra.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa optimalisasi area entres menjadi salah satu potensi produksi yang selama ini belum tergali maksimal. Secara agronomis, pengelolaan area entres yang baik tidak hanya mendukung kebutuhan bahan tanam unggul, tetapi juga mampu memberikan kontribusi tambahan terhadap produktivitas kebun apabila dikelola secara terencana dan berbasis data lapangan.

Seluruh langkah tersebut, lanjutnya, dilaksanakan dengan mengacu pada standar operasional prosedur (SOP), evaluasi teknis lapangan serta tindak lanjut arahan Regional Head Iyan Heryanto dan instruksi Manajer Yuraidil Syafitra dengan tetap berkoordinasi bersama Askep Tanaman  I Made Aditya Ardana.

Di tempat yang sama, Maskep TNP Dion Fernanda menegaskan bahwa penguatan sektor pengolahan dan teknik menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan produksi di tengah meningkatnya biaya operasional industri.

Menurut Dion, kualitas lateks harus dijaga sejak dari kebun hingga proses pengolahan agar menghasilkan mutu produk yang kompetitif. Dari sisi industri pengolahan, pengendalian mutu bahan baku akan berdampak langsung terhadap efisiensi proses produksi, pemakaian bahan penolong, konsumsi energi serta kualitas produk akhir.

“Lateks harus diolah dengan mutu terbaik karena kualitas bahan baku menentukan efisiensi dan mutu produk akhir. Infrastruktur juga perlahan kami lakukan perbaikan agar transportasi hasil menuju pabrik lebih lancar sehingga kehilangan waktu produksi dapat ditekan,” jelas Dion Fernanda.

Ia menambahkan bahwa pendekatan yang dilakukan saat ini bukan sekadar efisiensi biaya jangka pendek, melainkan membangun sistem operasional yang lebih adaptif, terukur dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, keterlibatan tenaga ahli sesuai bidang menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan teknis di lapangan.

“Karena itu hari ini saya membawa tim yang ahli di bidangnya masing-masing, Bapak Supriyadi pada bidang pengolahan dan Into Indrady pada bidang teknik agar evaluasi dan solusi yang diambil benar-benar berbasis kompetensi serta tepat sasaran,” tambahnya.

Dari sisi teknis, penguatan infrastruktur dan utilitas operasional menjadi langkah strategis untuk menekan potensi losses operasional akibat hambatan distribusi maupun downtime peralatan. Perbaikan sarana jalan produksi, sistem utilitas dan kesiapan peralatan pendukung diharapkan mampu meningkatkan efektivitas kerja sekaligus menjaga kontinuitas pasokan bahan olah ke pabrik.

Melalui sinergi lintas disiplin ilmu antara agronomi, teknik industri dan pengolahan hasil, Pabrik Karet PTPN 1 (Persero) Regional 7 Kebun Way Berulu menunjukkan komitmennya dalam menghadapi tantangan industri secara adaptif dan profesional. Pendekatan berbasis efisiensi ilmiah, penguatan mutu serta optimalisasi sumber daya menjadi pondasi penting untuk menjaga daya saing perusahaan di tengah dinamika ekonomi dan industri perkebunan yang terus berkembang.(indra).

Berita Terbaru