Iman Melemah, Amanah Diuji: Kajian Tauhid Way Berulu Ingatkan Bahaya Hawa Nafsu di Dunia Kerja

WAY BERULU, Jumat pagi — Ketika pengawasan manusia tidak lagi terlihat, siapa yang memastikan seseorang tetap jujur? Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu pesan penting dalam Kajian Ilmu Tauhid di lingkungan PTPN I (Persero) Regional 7 Kebun Way Berulu, Jumat pagi.(28/8/2026)

Berlangsung di depan Kantor Teknik sekitar pukul 07.30 WIB, kegiatan dibuka oleh Into Indrady dan dilanjutkan kajian ilmu tauhid serta hadis oleh Ustaz Ali Muchsin.

Kajian tidak hanya membahas hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga menyentuh persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: amanah, kejujuran, jabatan, kepentingan pribadi, kepatuhan terhadap aturan, dan tanggung jawab dalam pekerjaan.

Dalam sambutannya, Into Indrady menegaskan bahwa bekerja di lingkungan perusahaan, khususnya BUMN, harus dilandasi dua hal yang tidak boleh dipisahkan, yakni profesionalisme dan ketakwaan.

Setiap pekerjaan, menurutnya, harus mengikuti instruksi, instrumen, prosedur, standar dan ketentuan perusahaan. Namun kepatuhan tersebut harus lahir dari kesadaran, bukan semata-mata karena takut diawasi.

“Allah SWT Maha Melihat apa yang kita kerjakan. Jangan hanya bekerja dengan baik ketika ada yang mengawasi. Kesadaran kita harus lebih tinggi karena setiap perbuatan akan dicatat dan dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Saat Iman Turun, Godaan Bisa Mengambil Alih

Into mengingatkan bahwa manusia memiliki kondisi keimanan yang naik dan turun. Ketika iman melemah, seseorang dapat lebih mudah mengikuti hawa nafsu dan godaan yang membawa kepada perbuatan menyimpang.

Mengambil sesuatu yang bukan hak, menjatuhkan orang lain demi mengejar jabatan, mencari keuntungan pribadi dengan merugikan sesama, hingga mengabaikan aturan merupakan perbuatan yang patut menjadi bahan introspeksi.

“Kalau mulai muncul keinginan mengambil hak orang lain, menjatuhkan orang lain untuk mendapatkan jabatan, atau melakukan sesuatu yang merugikan sesama, kita harus segera melakukan muhasabah. Jangan sampai hawa nafsu dan godaan setan lebih dominan daripada iman,” pesannya.

Sebaliknya, iman yang terjaga akan tercermin melalui perilaku nyata: jujur ketika tidak diawasi, amanah ketika diberi kepercayaan, disiplin ketika tidak diperintah, serta tetap berbuat baik meskipun tidak mendapatkan pujian.

Jabatan Boleh Tinggi, tetapi Amanah Harus Lebih Tinggi

Kajian tersebut juga memberikan pesan penting tentang makna jabatan.

Jabatan bukanlah ruang untuk memperbesar kepentingan pribadi, melainkan amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.

Semakin besar kewenangan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab moral dan agama yang melekat di dalamnya.

Karena itu, persaingan dalam dunia kerja hendaknya tidak berubah menjadi upaya saling menjatuhkan. Kompetisi seharusnya menjadi dorongan untuk meningkatkan kemampuan, produktivitas dan kualitas diri—bukan mengorbankan orang lain.

Istighfar sebagai Jalan untuk Kembali

Ketika menyadari adanya kekeliruan, manusia tidak boleh larut dalam kesalahan. Islam mengajarkan pintu perbaikan melalui taubat dan kembali kepada Allah SWT.

Memperbanyak istighfar, salat tobat, berdoa, memperbaiki perilaku dan mengembalikan hak orang lain apabila pernah mengambilnya merupakan bagian dari proses memperbaiki diri.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”»

Sementara QS. Al-Zalzalah ayat 7–8 mengingatkan bahwa kebaikan maupun keburukan sekecil apa pun akan diperhitungkan.

Rasulullah SAW juga bersabda:

«“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»

Pesannya jelas: niat yang baik harus diwujudkan dalam tindakan yang baik pula.

Lebih Baik dari Kemarin

Kajian tauhid Way Berulu akhirnya bermuara pada satu pesan sederhana: jangan sibuk mengukur kelemahan orang lain sebelum mengukur diri sendiri.

Perbaikan diri bukan tentang siapa yang paling tinggi, siapa yang paling kuat, atau siapa yang berhasil mengalahkan orang lain.

Perbaikan diri adalah tentang apakah hari ini kita lebih jujur dibandingkan kemarin, lebih amanah dibandingkan sebelumnya, lebih disiplin dalam bekerja, lebih mampu menahan hawa nafsu, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Sebab manusia mungkin dapat menyembunyikan perbuatannya dari sesama manusia, tetapi tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari pengawasan Allah SWT.

Di situlah tauhid menemukan maknanya dalam dunia kerja: bekerja bukan hanya untuk dinilai manusia, tetapi juga sebagai amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.(*)

Berita Terbaru