Menjaga Integritas dan Kearifan Lokal Lampung, Fondasi Kepemimpinan yang Bermartabat

WAY BERULU — Apel dan doa pagi di Kantor Teknik menjadi momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya integritas, keteladanan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal dalam kehidupan bermasyarakat maupun di lingkungan kerja.(29/08/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB hingga selesai tersebut dipimpin Into Indrady. Selain menjadi sarana membangun kedisiplinan, apel dan doa pagi juga diisi dengan pesan moral mengenai pentingnya menjaga hubungan yang harmonis antara manusia, lingkungan, budaya, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam pesannya, Into Indrady menekankan bahwa perusahaan yang ingin tumbuh dan bertahan di Provinsi Lampung tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan manajerial dan pencapaian bisnis. Perusahaan juga perlu memahami serta menghormati budaya dan kearifan lokal masyarakat Lampung.

Menurutnya, menjadi bagian dari Lampung berarti mampu menghargai nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat. Kepemimpinan di daerah bukan semata-mata persoalan siapa yang berasal dari mana, melainkan tentang integritas, kemampuan, keteladanan, dan sejauh mana seorang pemimpin mampu memberikan manfaat bagi lingkungan tempat ia bekerja dan mengabdi.

“Siapa pun yang datang ke Lampung memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya. Namun, ketika dipercaya memimpin, hendaknya memahami, menghormati, dan menyatu dengan nilai-nilai masyarakat setempat,” pesan tersebut menekankan.

Karena itu, perbedaan latar belakang tidak semestinya menjadi sumber pertentangan antara pendatang dan masyarakat pribumi. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun Lampung secara bersama-sama.

Piil Pesenggiri sebagai Pedoman Moral

Nilai kehidupan masyarakat Lampung memiliki akar kuat dalam falsafah Piil Pesenggiri, yang mengajarkan pentingnya menjaga harga diri, kehormatan, tanggung jawab, dan perilaku luhur.

Falsafah tersebut tidak semestinya dipahami sebagai alasan untuk mempertentangkan kelompok masyarakat, tetapi sebagai pedoman agar setiap orang mampu menjaga martabat diri sekaligus menghormati orang lain.

Nilai Nemui Nyimah mengajarkan keramahan, keterbukaan, dan sikap menghormati tamu. Sakai Sambayan menumbuhkan semangat gotong royong dan saling membantu. Sementara Nengah Nyappur mengajarkan kemampuan bergaul, beradaptasi, dan hidup berdampingan tanpa kehilangan jati diri.

Adapun Bejuluk Beadek mengingatkan setiap orang agar menjaga nama baik, kehormatan, dan tanggung jawab sosial yang melekat pada dirinya.

Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan kehidupan organisasi modern. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari jabatan yang dimilikinya, tetapi juga dari akhlak, keadilan, kemampuan merangkul, serta keberanian mengambil keputusan yang benar.

Kekuasaan Harus Berjalan Bersama Integritas

Dalam kehidupan organisasi, jabatan merupakan amanah, bukan sekadar kekuasaan. Karena itu, siapa pun yang mendapat kepercayaan memimpin di Lampung—baik putra daerah maupun berasal dari luar daerah—memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga keharmonisan dan memberikan manfaat.

Masyarakat lokal pun tidak perlu membangun perlawanan berdasarkan sentimen kedaerahan. Cara terbaik untuk menjaga martabat adalah meningkatkan kapasitas, memperkuat persatuan, bekerja secara profesional, dan berani menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun.

Dengan demikian, kekuatan pribumi bukan terletak pada penolakan terhadap pendatang, melainkan pada kemampuan menjaga jati diri, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta berdiri sejajar melalui kompetensi dan integritas.

Pada akhirnya, Lampung adalah rumah bersama. Pendatang yang datang dengan niat baik, bekerja dengan jujur, menghormati budaya setempat, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat patut diterima sebagai bagian dari pembangunan.

Sebaliknya, siapa pun yang diberi amanah memimpin hendaknya tidak menjadikan jabatan sebagai alat untuk menunjukkan superioritas, melainkan sebagai kesempatan untuk mengabdi, membangun, dan meninggalkan keteladanan.

Apel dan doa pagi tersebut ditutup dengan harapan agar seluruh insan perusahaan senantiasa diberikan kekuatan untuk bekerja dengan jujur, menjaga amanah, menghormati sesama, serta menjadikan nilai agama dan kearifan lokal sebagai landasan dalam menjalankan kehidupan dan pekerjaan.

Sebab, perusahaan yang kuat bukan hanya perusahaan yang mampu mencapai target, tetapi juga perusahaan yang mampu tumbuh bersama masyarakat, menghormati budaya setempat, dan menjunjung tinggi integritas.(*)

Berita Terbaru