PTPN I Jadikan Sumpah Pemuda Energi Transformasi

JAKARTA — Semangat persatuan yang lahir dari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman. Bagi PT Perkebunan Nusantara I (Persero) atau PTPN I, nilai tersebut menjadi energi untuk memperkuat transformasi, mendorong inovasi, dan menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan industri agribisnis.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar mengenang sejarah perjuangan bangsa, melainkan momentum untuk menegaskan peran generasi muda sebagai penggerak perubahan perusahaan.

Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras, menegaskan bahwa generasi muda harus mengambil peran strategis dalam membangun perusahaan yang adaptif, kompetitif, dan berorientasi pada masa depan.
“Semangat Sumpah Pemuda harus menjadi energi untuk terus bergerak maju. Generasi muda PTPN I tidak hanya dipersiapkan sebagai penerus, tetapi juga penggerak transformasi melalui inovasi, profesionalisme, integritas, dan kolaborasi. Gagasan baru harus mampu diterjemahkan menjadi kinerja dan nilai tambah bagi perusahaan,” ujarnya di Jakarta.

Di tengah dinamika industri agribisnis, peran planters muda dari kalangan milenial dan Generasi Z semakin penting. Dengan perspektif baru dan kecakapan digital, mereka memiliki peluang untuk menghadirkan cara kerja yang lebih efektif, produktif, dan berkelanjutan.

Peran tersebut sejalan dengan agenda transformasi PTPN I untuk memperkuat daya saing, meningkatkan produktivitas, mengoptimalkan aset, dan mengembangkan nilai tambah komoditas perkebunan. Transformasi tidak hanya menyangkut teknologi dan proses bisnis, tetapi juga perubahan pola pikir, budaya kerja, serta kualitas sumber daya manusia.

Di lingkungan perkebunan, inovasi dapat diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi digital untuk memantau kondisi tanaman, penguatan pengelolaan data, efisiensi operasional, hingga pengembangan produk hilir. Berbagai peluang tersebut membutuhkan keberanian mencoba pendekatan baru sekaligus kemampuan menghasilkan dampak nyata.

“Transformasi tidak cukup hanya direncanakan atau dibicarakan. Perubahan harus terlihat dalam peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, dan kemampuan menciptakan nilai tambah. Saya mendorong generasi muda untuk terus belajar, berinovasi, dan berkolaborasi dengan tetap menjunjung integritas serta tanggung jawab,” katanya.

Namun, inovasi tidak dapat berjalan sendiri. Kolaborasi lintas generasi, kedisiplinan, keselamatan kerja, dan komitmen terhadap perbaikan menjadi fondasi agar setiap gagasan menghasilkan manfaat terukur. Pengalaman para senior dan kemampuan generasi muda memahami teknologi perlu disatukan untuk memperkuat kinerja perusahaan.

Nilai persatuan Sumpah Pemuda juga menjadi pengingat pentingnya kebersamaan di tengah keragaman wilayah, komoditas, dan karakter operasional PTPN I. Perbedaan latar belakang dan pengalaman justru dapat memperkaya perspektif serta memperkuat sinergi.

Bagi para planters muda, bekerja di sektor perkebunan bukan sekadar menjalankan proses produksi. Mereka turut berperan menjaga keberlanjutan sumber daya, mendukung ketahanan pangan dan energi, serta menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, peningkatan kompetensi, kepedulian terhadap lingkungan dan sosial, serta pemahaman tata kelola perusahaan harus berjalan beriringan.

Melalui momentum Hari Sumpah Pemuda, PTPN I menegaskan komitmen membangun lingkungan kerja yang mendorong pembelajaran, kolaborasi, dan pengembangan talenta muda.

Semangat yang dahulu menyatukan pemuda untuk memperjuangkan Indonesia kini perlu diwujudkan dalam tindakan nyata: menyatukan potensi, menggerakkan inovasi, dan menjadikan transformasi sebagai kerja bersama demi masa depan agribisnis Indonesia.(*)