WAY BERULU — Kesiapsiagaan bukan sekadar kesiapan peralatan, tetapi kemampuan manusia untuk bergerak cepat, tepat dan terkoordinasi ketika keadaan darurat terjadi. Semangat itulah yang dibangun PTPN I (Persero) Regional 7 Kebun Way Berulu melalui simulasi pemasangan dan pengoperasian hydrant di kamar asap Pabrik RSS, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.30 WIB hingga selesai tersebut dibuka oleh Yuraidil Syafitra selaku Manajer Kebun Way Berulu, didampingi Dion Fernanda, Maskep TNP sekaligus Ketua P2K3. Kegiatan diikuti karyawan pimpinan serta anggota Satpam dan pekerja TNP.
Suasana latihan berlangsung serius namun tetap penuh semangat. Peserta dilatih memahami alur tindakan ketika terjadi kebakaran, mulai dari menerima informasi keadaan darurat, mengambil dan memasang selang hydrant, menghidupkan pompa hingga mengarahkan semburan air menuju titik sasaran.
Bagi manajemen dan P2K3, simulasi ini bukan sekadar kegiatan rutin. Latihan menjadi ruang untuk membangun refleks, ketenangan, komunikasi dan kecepatan mengambil keputusan ketika menghadapi situasi yang membutuhkan respons segera.
Diuji dalam Hitungan Detik
Ketua P2K3 Dion Fernanda melakukan evaluasi langsung terhadap pelaksanaan simulasi. Waktu respons dihitung sejak peserta menerima instruksi, melakukan pemasangan selang, menghidupkan pompa hydrant hingga semburan air berhasil keluar dan diarahkan ke sasaran.
Pengukuran dilakukan untuk mengetahui apakah setiap tahapan telah berjalan efektif atau masih terdapat hambatan yang dapat memperlambat respons ketika terjadi kondisi sebenarnya.
“Dalam kondisi darurat, kita tidak boleh ragu. Setiap personel harus memahami tugasnya. Mulai dari pemasangan selang, menghidupkan pompa sampai air menyembur harus dilakukan dalam hitungan detik, tentu dengan tetap mengutamakan keselamatan,” ujar Dion.
Evaluasi Simulasi: Cepat, Tepat dan Terkoordinasi
Evaluasi P2K3 mencakup beberapa aspek penting, yaitu:
- Kecepatan respons: mengukur waktu sejak informasi kebakaran diterima hingga tindakan pemadaman dimulai.
- Kesiapan personel: memastikan peserta memahami tugas dan posisi masing-masing.
- Pemasangan selang hydrant: menilai ketepatan dan kecepatan pemasangan tanpa kesalahan teknis.
- Pengoperasian pompa: memastikan pompa dapat segera diaktifkan dan sistem bekerja dengan baik.
- Semburan air: memastikan air keluar dengan baik dan diarahkan secara tepat ke titik sasaran.
- Komunikasi: menilai kejelasan instruksi dan koordinasi antarpetugas.
- Evakuasi: memastikan pekerja bergerak melalui jalur evakuasi menuju titik aman secara tertib.
- Isolasi area: memastikan lokasi kejadian segera diamankan dan akses terhadap zona berbahaya dibatasi.
- Penyisiran: memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal di area terdampak.
- Koordinasi lanjutan: memastikan komunikasi dengan tim terkait berjalan apabila diperlukan pertolongan pertama atau dukungan tambahan.
Hasil evaluasi tersebut menjadi bahan perbaikan untuk latihan berikutnya. Jika ditemukan keterlambatan atau kendala pada salah satu tahapan, maka akan dilakukan pembenahan dan pengulangan hingga diperoleh pola kerja yang lebih cepat dan efektif.
Evakuasi dan Isolasi Sama Pentingnya dengan Pemadaman
Simulasi juga menempatkan evakuasi dan isolasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan kebakaran.
Saat kondisi darurat terjadi, prioritas utama adalah keselamatan manusia. Pekerja harus diarahkan menjauh dari sumber bahaya menuju titik aman, sementara area terdampak segera diisolasi untuk mencegah korban tambahan dan mengurangi risiko penyebaran api.
Dengan demikian, respons kebakaran tidak hanya diukur dari seberapa cepat air menyembur dari hydrant, tetapi juga dari kemampuan tim mengamankan manusia, lingkungan kerja dan aset perusahaan.
Manajemen Dorong Latihan Seminggu Sekali
Untuk membangun kesiapan yang semakin kuat, Yuraidil Syafitra dan Dion Fernanda mendorong agar simulasi tanggap darurat dilakukan secara rutin minimal satu kali dalam seminggu.
Menurut Yuraidil, latihan yang berulang akan membuat peserta semakin memahami prosedur sekaligus terbiasa menggunakan perangkat hydrant dalam kondisi yang menyerupai keadaan sebenarnya.
“Latihan ini harus terus dilakukan. Kita dorong seminggu sekali agar anggota Satpam dan pekerja TNP semakin memahami tugas masing-masing, semakin terbiasa dengan peralatan dan yang paling penting semakin cepat dalam merespons,” kata Yuraidil.
Dion menambahkan, pengulangan latihan diperlukan agar respons terhadap keadaan darurat menjadi gerakan yang terlatih.
“Kita ingin ketika terjadi keadaan darurat, personel tidak lagi berpikir panjang mengenai apa yang harus dilakukan. Mereka sudah tahu tugasnya, bergerak bersama dan mampu merespons dalam hitungan detik,” tegas Dion.
Melalui latihan yang konsisten, Kebun Way Berulu terus memperkuat budaya K3 dengan pendekatan yang praktis dan terukur. Peralatan yang siap, prosedur yang dipahami dan personel yang terlatih menjadi satu kesatuan penting dalam membangun lingkungan kerja yang aman.
Lebih dari sekadar simulasi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tumbuh dari latihan yang dilakukan berulang. Semakin sering dilatih, semakin cepat merespons; semakin cepat merespons, semakin besar peluang untuk melindungi manusia, aset dan keberlangsungan operasional perusahaan.(*).



