WAY BERULU — Upaya menjaga produktivitas dan keberlanjutan operasional terus diperkuat PTPN I (Persero) Regional 7 Kebun Way Berulu. Salah satunya melalui Rapat Koordinasi Antarbagian yang mempertemukan Askep, Maskep dan seluruh Asisten untuk menyatukan langkah, mengevaluasi kondisi lapangan serta menyusun tindak lanjut yang lebih terukur.
Rapat dipimpin Manajer Kebun Way Berulu Yuraidil Syafitra, bertempat di Ruang Rapat Kantor Sentral Kebun Way Berulu, Jumat (5/9/2026), pukul 14.00 WIB hingga selesai.
Pembahasan diarahkan pada sejumlah aspek yang saling berkaitan, mulai dari optimalisasi produksi karet kebun, kesiapan menghadapi Karhutla, digitalisasi pekerjaan, pengendalian biaya, kebersihan lingkungan, maintenance pabrik hingga kesiapan sarana hydrant.
1. Optimalisasi Produksi Karet Kebun
Produksi karet menjadi salah satu fokus utama. Optimalisasi tidak hanya dilihat dari jumlah produksi, tetapi juga dari kemampuan kebun menjaga produktivitas tanaman, kualitas hasil sadapan, efektivitas tenaga kerja dan kesinambungan pasokan bahan olah ke pabrik.
Indikator teknis:
– Produktivitas per hektare dan per blok.
– Realisasi produksi dibandingkan target.
– Persentase pencapaian areal sadap.
– Kualitas lateks dan bahan olah.
– Ketepatan waktu pengumpulan dan pengangkutan.
– Kehilangan hasil atau losses di lapangan.
– Kondisi tanaman dan efektivitas pemeliharaan.
– Ketersediaan bahan olah untuk mendukung kapasitas pabrik.
Tindak lanjut:
Masing-masing Asisten melakukan monitoring produksi per blok secara rutin, mengidentifikasi blok yang belum mencapai potensi, serta menyusun langkah korektif berdasarkan kondisi tanaman, tenaga kerja, cuaca dan hasil produksi.
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan target–realisasi–potensi, sehingga keputusan peningkatan produksi dapat berbasis data lapangan.
2. Kesiapan Tim Karhutla
Menghadapi musim kemarau, kesiapan Karhutla menjadi prioritas. Kesiapan harus mencakup personel, peralatan, sumber air dan komunikasi darurat.
Indikator teknis:
– Kesiapan personel dan pembagian tugas.
– Kondisi kendaraan dan pompa pemadam.
– Ketersediaan air.
– Kondisi selang, nozzle dan peralatan pemadam.
– Akses menuju lokasi rawan.
– Kecepatan komunikasi dan respons.
– Pemetaan titik rawan kebakaran.
Tindak lanjut:
Dilakukan pengecekan berkala terhadap seluruh sarana Karhutla, pemetaan kembali titik rawan serta memastikan jalur komunikasi dan koordinasi antarbagian berjalan efektif.
3. Strategi Produksi Menghadapi Musim Kemarau
Musim kemarau dapat memengaruhi kondisi tanaman, ketersediaan bahan olah dan kesinambungan produksi. Karena itu, strategi produksi perlu disesuaikan dengan kondisi aktual lapangan.
Indikator teknis:
– Kondisi kelembapan dan cuaca.
– Tren produksi harian/mingguan.
– Produktivitas per blok.
– Kondisi tanaman.
– Ketersediaan tenaga sadap.
– Ketersediaan bahan olah menuju pabrik.
Tindak lanjut:
Melakukan monitoring tren produksi secara berkala dan mengambil tindakan korektif terhadap blok atau kegiatan yang mengalami penurunan, dengan tetap memperhatikan kondisi tanaman dan standar teknis budidaya.
4. Pengisian HRIS
Kedisiplinan administrasi digital menjadi bagian dari tata kelola perusahaan.
Indikator teknis:
– Ketepatan waktu pengisian.
– Kelengkapan data.
– Kesesuaian data dengan kondisi aktual.
– Minimnya koreksi atau data yang tertinggal.
Tindak lanjut:
Setiap bagian melakukan pemeriksaan rutin terhadap kelengkapan data dan segera melakukan koreksi apabila terdapat ketidaksesuaian.
5. Digital Farming
Digital Farming diarahkan menjadi instrumen pencatatan kegiatan lapangan dan sumber data untuk evaluasi.
Indikator teknis:
– Kelengkapan input kegiatan.
– Ketepatan waktu penginputan.
– Akurasi data lapangan.
– Konsistensi penggunaan aplikasi.
– Kesesuaian data digital dengan kondisi aktual.
Tindak lanjut:
Asisten dan pengawas melakukan verifikasi data secara berkala sehingga informasi yang masuk ke sistem benar-benar mencerminkan kondisi lapangan.
6. Evaluasi dan Pengendalian Biaya
Efisiensi biaya menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas.
Indikator teknis:
– Realisasi biaya dibandingkan anggaran.
– Biaya per satuan produksi.
– Penggunaan material dan BBM.
– Biaya maintenance.
– Efektivitas penggunaan tenaga kerja.
– Deviasi biaya dan penyebabnya.
Tindak lanjut:
Setiap bagian melakukan evaluasi terhadap pos biaya yang mengalami deviasi dan menyusun langkah efisiensi tanpa mengurangi aspek keselamatan, mutu dan keandalan operasional.
7. Kebersihan Pabrik dan Lingkungan
Kebersihan bukan hanya persoalan estetika, tetapi bagian dari keselamatan dan kelancaran operasional.
Indikator teknis:
– Kebersihan area produksi.
– Kondisi saluran dan drainase.
– Kebersihan area sekitar mesin.
– Pengelolaan limbah dan material sisa.
– Kerapian jalur akses dan area kerja.
Tindak lanjut:
Dilakukan pemeriksaan rutin oleh masing-masing bagian dan penetapan penanggung jawab area sehingga kebersihan menjadi tanggung jawab bersama dan bukan hanya pekerjaan pada saat tertentu.
8. Maintenance Pabrik
Keandalan peralatan menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga kesinambungan produksi.
Indikator teknis:
– Kondisi mesin dan peralatan.
– Preventive maintenance terlaksana sesuai jadwal.
– Jumlah gangguan atau breakdown.
– Downtime mesin.
– Ketersediaan spare part kritis.
– Riwayat perbaikan dan tindak lanjut temuan.
Tindak lanjut:
Bagian Teknik melakukan prioritas maintenance berdasarkan tingkat risiko dan dampaknya terhadap produksi. Peralatan kritis harus mendapatkan perhatian lebih awal untuk mencegah kerusakan yang lebih besar dan downtime berkepanjangan.
9. Pemeriksaan Hydrant Setiap Pergantian Shift
Konsistensi pemeriksaan hydrant menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan proteksi kebakaran di pabrik.
Indikator teknis:
– Kondisi valve.
– Ketersediaan dan kondisi selang.
– Kondisi nozzle.
– Tekanan dan ketersediaan sumber air sesuai sistem yang digunakan.
– Akses hydrant tidak terhalang.
– Kondisi box hydrant.
– Pencatatan hasil pemeriksaan setiap shift.
Tindak lanjut:
Setiap pergantian shift wajib memastikan kondisi hydrant telah diperiksa dan dicatat. Apabila ditemukan ketidaksesuaian, temuan segera dilaporkan kepada penanggung jawab untuk dilakukan tindakan perbaikan.
Menjadikan Data sebagai Dasar Perbaikan
Rapat koordinasi tersebut menjadi momentum untuk membangun pola kerja yang lebih terukur. Setiap agenda tidak berhenti pada pembahasan, tetapi diarahkan memiliki indikator, penanggung jawab, monitoring dan tindak lanjut.
Optimalisasi produksi karet kebun, misalnya, harus dapat terlihat melalui perbandingan target dan realisasi, produktivitas per blok, kualitas bahan olah serta kesinambungan pasokan ke pabrik. Demikian pula maintenance harus dapat diukur melalui penurunan gangguan dan peningkatan keandalan peralatan.
Dengan pendekatan tersebut, koordinasi antarbagian diharapkan tidak hanya menjadi forum menyampaikan kondisi, tetapi menjadi ruang untuk mencari solusi, menetapkan prioritas dan memastikan setiap keputusan benar-benar dilaksanakan di lapangan.

Manajer Kebun Way Berulu Yuraidil Syafitra menekankan pentingnya konsistensi seluruh jajaran dalam menjalankan tugas sesuai bidang masing-masing, memperkuat komunikasi serta menjaga disiplin terhadap standar operasional.
Semangat kolaborasi tersebut menjadi bagian dari langkah Way Berulu untuk menjaga produktivitas, keselamatan, efisiensi dan keberlanjutan operasional.
Satu koordinasi, satu data, satu langkah perbaikan — untuk produktivitas Way Berulu yang semakin kuat dan berkelanjutan.(*).



