Jakarta, 26 September 2026 — Pengembangan bioetanol nasional mulai bergerak dari kebijakan menuju implementasi di daerah. Pemerintah mendorong pengembangan tebu, ubi kayu atau singkong, dan jagung sebagai bahan baku bioetanol sekaligus bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional. Kementerian Pertanian menyiapkan pengembangan kawasan hingga 1–2 juta hektare dan menekankan pentingnya membangun ekosistem dari penyediaan bahan baku hingga industri pengolahan.
Langkah tersebut dibahas dalam Rapat Program Khusus Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati dari berbagai daerah pada 21 September 2026. Pemerintah daerah didorong menyiapkan kawasan dan menggerakkan petani agar pengembangan bahan baku dapat dilakukan secara terintegrasi.
Program bioetanol juga memiliki keterkaitan dengan rencana pengembangan E20, yaitu bensin dengan campuran 20 persen etanol. Kementerian ESDM memperkirakan kebutuhan etanol untuk program tersebut sekitar 4 juta kiloliter per tahun, sehingga penguatan produksi bahan baku dalam negeri menjadi salah satu bagian penting dalam membangun rantai pasok energi.
Lampung Selatan Siapkan Potensi 13.000 Hektare
Implementasi kebijakan tersebut mulai mendapatkan bentuk di Lampung. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menyiapkan sekitar 13.000 hektare lahan untuk mendukung pengembangan komoditas bahan baku bioetanol.
Dari luasan tersebut, sekitar 10.000 hektare diarahkan untuk jagung dan 3.000 hektare untuk ubi kayu. Pengembangan ubi kayu diarahkan di Kecamatan Natar, Jati Agung, Tanjung Bintang dan Tanjung Sari. Pemerintah daerah menyatakan pengembangan ini diharapkan tidak hanya mendukung kebutuhan energi, tetapi juga memperluas pasar hasil pertanian dan meningkatkan nilai ekonomi bagi petani.
Kesiapan kawasan di Lampung Selatan menunjukkan bahwa agenda ketahanan pangan dan energi mulai dipadukan melalui pengembangan komoditas pertanian yang memiliki nilai strategis bagi industri.
BUMN Perkebunan Mulai Mengembangkan Singkong Mukibat
Pada tingkat BUMN perkebunan, PTPN I (Persero) Regional 7 juga mulai melakukan langkah konkret melalui penanaman perdana demplot singkong varietas Mukibat di Kebun Kedaton pada 24 September 2026.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama pengembangan varietas ubi kayu dengan Universitas Lampung. PTPN I Regional 7 mengembangkan beberapa varietas, antara lain UJ-3, UJ-5, Garuda dan Mukibat, untuk melihat potensi budidaya dan produktivitasnya.
Pengembangan demplot tersebut menjadi bagian dari proses pengujian dan pembelajaran di lapangan. Singkong Mukibat sendiri merupakan teknik budidaya melalui penyambungan batang atas singkong karet dengan batang bawah ubi kayu.
Dengan demikian, langkah BUMN perkebunan tersebut dapat menjadi bagian dari proses membangun basis pengalaman dan data budidaya sebelum pengembangan dilakukan pada skala yang lebih luas.
JPPN: Petani, Nelayan dan Buruh Mendukung Program Pemerintah
Ketua Jaringan Petani Persada Nusantara (JPPN), Hasrat Tanjung, menyampaikan bahwa masyarakat tani, nelayan dan buruh mendukung program pemerintah yang diarahkan untuk memperkuat swasembada pangan dan perekonomian masyarakat.
“Masyarakat tani, nelayan dan buruh mendukung program pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan. Program ini harus terus bergulir dan dikawal bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Hasrat Tanjung.
Menurut Hasrat, pengembangan bioetanol perlu dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kepentingan petani. Peningkatan produksi bahan baku harus diikuti penguatan produktivitas, teknologi budidaya, sarana produksi, kelembagaan petani, kepastian pasar dan pola kemitraan yang transparan.
“Yang terpenting adalah bagaimana program pemerintah terus berjalan secara berkelanjutan, petani mendapatkan manfaat ekonomi, produksi pangan tetap terjaga, dan masyarakat menjadi bagian dari pembangunan nasional,” tambahnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan arah pemerintah yang menyebut pengembangan bioetanol akan melibatkan BUMN, swasta dan masyarakat, dengan pemerintah menyiapkan kepastian kawasan dan mendorong masyarakat menjadi bagian dari ekosistem usaha.
Menjaga Pangan Sekaligus Membangun Kemandirian Energi
Pengembangan bioetanol membawa agenda yang saling berkaitan antara pertanian, pangan, energi dan ekonomi masyarakat. Tantangannya adalah memastikan peningkatan produksi bahan baku tidak mengurangi perhatian terhadap kebutuhan pangan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang nyata kepada petani.
Karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN perkebunan, perguruan tinggi, kelompok tani, dunia usaha, nelayan, buruh dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem bioetanol dari hulu hingga hilir.
Bagi Lampung, langkah penyiapan lahan di Lampung Selatan dan pengembangan demplot singkong Mukibat oleh PTPN I Regional 7 menunjukkan adanya aktivitas nyata di tingkat daerah yang berkaitan dengan agenda nasional tersebut. Pengembangan selanjutnya membutuhkan evaluasi produktivitas, kesesuaian lahan, tata kelola rantai pasok dan kepastian pasar agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, program bioetanol bukan hanya mengenai penyediaan energi alternatif. Program ini juga menyentuh penguatan sektor pertanian, peningkatan nilai tambah komoditas, pengembangan industri, peluang ekonomi masyarakat serta ketahanan pangan dan energi nasional.
Dari lahan pertanian hingga industri pengolahan, sinergi pemerintah, BUMN, petani dan masyarakat menjadi bagian dari proses membangun kemandirian pangan dan energi secara berkelanjutan.(*)



