36 Tahun Humanika: Merawat Nyala Api Aktivis Sepanjang Masa

JAKARTA, 19 September 2026 β€” Tiga puluh enam tahun perjalanan Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika) menjadi momentum penting untuk kembali mempererat silaturahmi, merawat ingatan kolektif, serta meneguhkan semangat perjuangan para aktivis lintas generasi.

Momentum tersebut diwujudkan melalui kegiatan reuni dan silaturahmi yang berlangsung di sebuah restoran di Jakarta, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan dihadiri sekitar 800 aktivis dan alumni Humanika yang datang dari berbagai daerah.

Bagi Marlin Dinamikanto, Humanika bukan sekadar organisasi. Humanika merupakan ruang awal tempat nurani aktivisme ditempa, sekaligus tempat para aktivis belajar membaca berbagai persoalan kemanusiaan, keadilan, dan dinamika zaman.

Menurut Marlin, karakter Humanika yang inklusif telah menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi. Humanika menjadi ruang perjumpaan bagi berbagai latar belakang pemikiran dan ideologi untuk berdialektika, membangun persaudaraan, serta bersama-sama menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan keadilan.

Karakter tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari sosok Bursah Zarnubi yang sejak masa mudanya dikenal memiliki kepedulian terhadap sesama dan mampu membangun ruang pergaulan yang melampaui berbagai sekat.

Semangat persaudaraan itu kembali terlihat ketika mantan Ketua Humanika Jakarta, M. Syaiful Jihad, menggagas reuni sekaligus silaturahmi dalam rangka menyambut 36 Tahun Humanika.

Tanpa kemasan acara yang berlebihan, pertemuan tersebut mendapat sambutan luas. Sekitar 800 aktivis dan alumni hadir dari berbagai daerah. Mereka datang untuk kembali bertemu dengan sahabat seperjalanan sekaligus mengenang perjalanan panjang aktivisme yang pernah dilalui bersama.

Sempat Diwarnai Persoalan Teknis

Pertemuan tersebut sempat diwarnai persoalan teknis ketika pendingin ruangan di lokasi acara dimatikan menjelang puncak kegiatan. Kondisi ruangan yang padat dan gerah sempat memicu ketegangan di tengah peserta.

Namun, situasi dapat segera diredakan. Kedewasaan para peserta dalam mengelola emosi membuat persoalan tidak berkembang menjadi keributan. Pihak manajemen restoran kemudian menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.

Setelah persoalan tersebut terselesaikan, suasana kembali cair. Pelukan, tawa, dan percakapan antarkawan lama memenuhi ruangan. Pertemuan yang semula berupa reuni berubah menjadi momentum emosional yang mempertemukan kembali para aktivis lintas generasi.

Bukan Sekadar Nostalgia

Bagi Marlin Dinamikanto, reuni tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai nostalgia masa lalu.

Pertemuan itu harus menjadi momentum untuk merawat ingatan kolektif dan menghidupkan kembali tanggung jawab moral terhadap persoalan kemanusiaan dan keadilan.

Perjuangan, menurut refleksi Marlin, tidak selalu menghasilkan kemenangan secara cepat. Ia mengibaratkannya seperti kisah Sisifus yang terus mendorong batu menuju puncak, meskipun batu tersebut kembali menggelinding ke bawah.

Perjuangan memang melelahkan dan sering kali berulang. Namun, menyerah bukanlah pilihan.

Dari sinilah semangat β€œAktivis Sepanjang Masa” menemukan maknanya. Menjadi aktivis tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan dalam organisasi, tetapi lebih jauh merupakan sikap batin untuk terus menjaga kepedulian terhadap kemanusiaan dan keadilan.

Pesan Hariman Siregar

Pesan tersebut semakin kuat melalui wejangan Hariman Siregar dalam pertemuan tersebut. Ia mengingatkan bahwa di mana pun seorang aktivis berada, termasuk mereka yang kini berada dalam ruang kekuasaan, kompas keberpihakan kepada masyarakat lemah harus tetap dijaga.

Pangkat dan jabatan merupakan bagian dari perjalanan hidup yang dapat berubah. Namun, integritas moral, kepedulian terhadap sesama, dan semangat perjuangan merupakan nilai yang semestinya tetap melekat.

Peringatan 36 Tahun Humanika pada akhirnya bukan hanya tentang menghitung usia sebuah organisasi. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ruang untuk merawat persaudaraan, menjaga ingatan perjuangan, dan memastikan api kepedulian terhadap kemanusiaan tetap menyala.

Karena menjadi aktivis sepanjang masa bukan semata-mata tentang berada di jalanan ataupun memegang jabatan dalam organisasi. Menjadi aktivis sepanjang masa adalah tentang menjaga nurani tetap hidup, di mana pun seseorang berada dan apa pun peran yang sedang dijalankan.(Andy)