Way Berulu — PTPN I (Persero) Regional 7 Kebun Way Berulu terus mendorong keseimbangan antara peningkatan kinerja, kedisiplinan, tanggung jawab, dan pembinaan spiritual. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan tausyiah yang dilaksanakan pada pukul 07.30 WIB hingga selesai di depan Gudang Sortasi, Jumat (18/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi jajaran manajemen dan karyawan untuk meningkatkan keimanan, memperbanyak istighfar, memperkuat rasa syukur, serta melakukan muhasabah terhadap sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Tausyiah dihadiri Supriyadi selaku Asisten Pengolahan SIR, M. Iqbal selaku Asisten Pengolahan RSS, serta Raiysa selaku Asisten Quality Control, bersama jajaran karyawan Kebun Way Berulu.

Sambutan dan arahan kegiatan dipimpin oleh Into Indrady, ST., MM. Dalam arahannya, Into mengajak seluruh peserta menjadikan kegiatan tausyiah sebagai sarana memperkuat keimanan, meningkatkan rasa syukur, memperbanyak istighfar, serta melakukan evaluasi terhadap diri sendiri maupun pelaksanaan amanah pekerjaan.
Memohon Ampunan dan Memperkuat Rasa Syukur
Tausyiah disampaikan oleh Ustadz Amin Muchin dengan tema “Memohon Ampunan kepada Allah SWT.” Dalam penyampaiannya, Ustadz Amin mengingatkan bahwa manusia tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Karena itu, memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Allah SWT berfirman:
«“Dan barang siapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa: 110)»
Allah SWT juga berfirman:
«“Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan…”
(QS. Hud: 3)»
Ustadz Amin mengajak seluruh jamaah untuk meningkatkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT. Manusia perlu melakukan muhasabah apabila dalam menjalani kehidupan lebih banyak mengeluh daripada bersyukur.
Allah SWT mengingatkan:
«“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu…”
(QS. Ibrahim: 7)»
Pesan tersebut menjadi pengingat agar setiap orang tidak merasa aman dari kesalahan dan dosa. Ketika menghadapi berbagai kondisi sulit, seperti perubahan cuaca, berkurangnya curah hujan, produktivitas yang belum optimal maupun tekanan terhadap pendapatan perusahaan dan pekerja, kondisi tersebut dapat menjadi momentum untuk introspeksi, memperbanyak doa dan istighfar, sekaligus memperbaiki ikhtiar nyata.

Dalam perspektif keagamaan, berbagai ujian merupakan bagian dari kehidupan manusia. Allah SWT berfirman:
«“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)»
Karena itu, kurangnya rasa syukur dan banyaknya kesalahan hendaknya menjadi bahan introspeksi agar manusia semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki amal, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Istighfar dan Ikhtiar Harus Berjalan Bersama
Rasulullah SAW juga memberikan teladan dalam memperbanyak istighfar. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan:
«“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”»
Hadis tersebut menunjukkan bahwa istighfar merupakan amalan yang dapat senantiasa menyertai kehidupan seorang mukmin.
“Kalau kita merasa banyak kekurangan, jangan hanya melihat persoalan dari sisi duniawi. Mari kita introspeksi, memperbanyak istighfar, meningkatkan rasa syukur dan memperbaiki amal. Pada saat yang sama, ikhtiar dalam pekerjaan harus tetap ditingkatkan,” pesan Ustadz Amin.
Pesan tersebut relevan dengan kehidupan di lingkungan perkebunan dan pabrik. Kondisi cuaca, curah hujan, kesehatan tanaman, produktivitas, harga komoditas, efisiensi, kualitas produksi hingga pendapatan perusahaan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Karena itu, doa dan istighfar tidak menggantikan ikhtiar profesional. Keduanya perlu berjalan bersama dengan peningkatan produktivitas, pemeliharaan tanaman dan mesin, efisiensi penggunaan biaya dan sumber daya, pengendalian mutu, penerapan SOP, disiplin kerja dan penerapan K3.
Allah SWT berfirman:
«“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)»
Dengan demikian, spiritualitas menjadi landasan moral untuk membangun karakter kerja yang amanah, disiplin, jujur, bertanggung jawab dan pantang menyerah. Setelah usaha dilakukan secara maksimal, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT dengan penuh tawakal.
Pimpinan Harus Hadir di Tengah Pekerja
Selain pesan spiritual, Into Indrady, ST., MM. juga menekankan pentingnya pola kepemimpinan yang dekat dengan pekerja. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh perencanaan dan instruksi, tetapi juga oleh kehadiran pimpinan secara langsung di lapangan.
Pimpinan perlu berada di tengah pekerja untuk melihat kondisi aktual, mendengarkan masukan, memahami kendala, sekaligus mengetahui kebutuhan yang diperlukan agar proses pekerjaan dapat berjalan dengan baik.
“Kalau kita ingin sukses, pimpinan harus berada di tengah-tengah pekerja. Dengan hadir langsung di lapangan, kita bisa melihat apa yang menjadi kebutuhan, apa kendalanya, dan apa yang harus segera diperbaiki agar proses kegiatan berjalan dengan baik,” ujar Into.
Menurutnya, kehadiran pimpinan di tengah pekerja juga penting untuk membangun komunikasi dua arah. Pekerja dapat menyampaikan kondisi lapangan secara langsung, sementara pimpinan dapat memberikan arahan, solusi dan dukungan sesuai kebutuhan operasional.

Prinsip tersebut mencerminkan pentingnya kebersamaan, gotong royong, komunikasi dan kepedulian dalam mencapai tujuan perusahaan. Pimpinan tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga perlu memastikan bahwa arahan tersebut dapat dilaksanakan dengan dukungan sumber daya, sarana, prasarana dan lingkungan kerja yang memadai.
Dalam konteks operasional Kebun Way Berulu, kehadiran pimpinan di lapangan dapat dilakukan melalui pemantauan kegiatan tanaman, pengolahan pabrik, maintenance, mutu produksi, lingkungan, IPAL, infrastruktur jalan dan jembatan, kebersihan, efisiensi penggunaan air dan listrik, kendaraan, serta penerapan SOP dan K3.
Dengan komunikasi yang terbuka dan pemantauan langsung, berbagai persoalan diharapkan dapat diketahui lebih cepat sehingga penyelesaiannya dapat dilakukan secara tepat dan terukur.
“Kita bekerja bukan sendiri-sendiri. Pimpinan dan pekerja harus saling mendukung. Kalau komunikasi berjalan baik, kebutuhan lapangan diketahui, dan setiap orang menjalankan tugas sesuai tanggung jawabnya, maka proses pekerjaan akan lebih efektif dan tujuan perusahaan dapat dicapai bersama,” lanjutnya.
Doa untuk Keberkahan Kebun Way Berulu
Kegiatan tausyiah diharapkan menjadi momentum muhasabah bersama bagi seluruh keluarga besar Kebun Way Berulu untuk saling memaafkan, memperbaiki diri, meningkatkan rasa syukur, memperkuat kepedulian terhadap sesama, serta menjalankan amanah pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
Pada Jumat yang penuh berkah tersebut, seluruh jamaah juga memanjatkan doa agar Allah SWT memberikan rahmat, hidayah dan keberkahan kepada seluruh keluarga besar PTPN I Regional 7 Kebun Way Berulu; mengampuni dosa dan kekhilafan, memberikan hujan yang membawa keberkahan, menjaga tanaman dan lingkungan, meningkatkan produktivitas serta kualitas produksi, memperkuat kinerja perusahaan, dan memberikan keberkahan terhadap pendapatan serta kesejahteraan seluruh pekerja.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Pada akhirnya, keberhasilan perusahaan tidak hanya membutuhkan strategi, teknologi dan kerja keras, tetapi juga karakter manusia yang memiliki integritas, rasa syukur, kepedulian, kedisiplinan dan kesadaran untuk senantiasa memperbaiki diri.

Semoga tausyiah ini menjadi pengingat bahwa keberkahan dapat diupayakan melalui perpaduan antara doa, istighfar, rasa syukur, kepemimpinan yang hadir di tengah pekerja, komunikasi yang terbuka, kerja keras, disiplin, kepatuhan terhadap SOP, penerapan K3, serta ikhtiar yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab.(Indra).



